WELKOM TO INNER SELF-TALK! #logikagatal01

Ternyata sebutuh itu saya menulis unek-unek yang ditemui sehari-hari. Nantinya akan lucu kalau dibaca beberapa tahun mendatang.
Jangan koreksi tata bahasa, karena saya menulis saat mata sudah lelah tapi tangan dan pikiran masih ingin beradu dengan waktu.
omongansendiri, karena memang untuk dan dari diri sendiri.

01:20am, 28 Juli 2018.

Ingin kembali menulis blog tapi terlalu ragu untuk nulis di blog masa SMA. Kebutuhan menulis (mengetik) tiba-tiba muncul lagi karena beberapa alasan, salah satunya logika berpikir akan hal-hal sepele di kehidupan ini yang tak cukup diungkapkan di twitter. Dan saya rasa cukup ganggu kalau 'mengeluh' terus di lini masa twitter tentag hal sepele namun gatel untuk tidak ditulis.

Ingat dulu pas SMA, segala macam emosi saya tumpahkan ke sebuah cerpen bersambung. Tokoh-tokohnya tentu dari lingkup teman sendiri tapi dengan jalan cerita terlalu jijay untuk dibaca oleh saya versi 26 tahun. Terlalu ngimpi, melow, bertele-tele.....

Logika berpikir saya agak gatal hari ini, dengan suatu kejadian, sepele, tapi sedikit ganggu. Mari beranalogi. Mawar melakukan kesalah kepada temannya Melati, anggaplah kesalahannya cukup membuat Mawar jengkel dan Melati bisa disebut 'korban' dari kesalahannya Mawar. Sebut sajalah Mawar menumpahkan fanta ke baju baru Melati yang berwarna putih. Melati sudah memaafkan dan sudah tak ingin Mawar membahas masalah ini.

Lalu begini logika saya dimainkan:
beberapa bulan setelahnya, Mawar membahas2 bagaimana ia menumpahkan fanta ke baju Melati. Mengungkit-ungkit cerita lama yang Melati sebenarnya tak mau dengar lagi. Melati kesal dong, tapi Mawar terlihat biasa saja. Mungkin merasa bersalah tapi terus mengungkit.
Bukankah yang biasanya mengungkit-ungkit adalah 'korban'? Misal Melati tidak bisa pakai baju itu lagi, lalu bilang sama temannya "Iya soalnya Mawar numpahin fanta, jadi bajunya gak putih lagi dan gak bisa aku pakai". Mawar kesel dong, dan bilang "tuh, ungkit aja terus padahal gk sengaja, udah minta maaf"

Tapi sekarang Melatinya yang bilang "Tuh ungkit aja terus. Padahal udah aku maafin dan bilang gk usah diungkit lagi".

Aneh gak sih? Apa saya aja terlalu lebay berpikir hal ini aneh?

Ya baik, itu saja. Selamat malam dan lanjutkanlah menulis.

Comments

Popular Posts